KENAPA HARUS KE PASA HARAU?

Pasa Harau mengambil ‘pasa’ yakni kata Minangkabau untuk ‘pasar’ yang juga dapat berarti keramaian. Harapannya, festival ini dapat menjadi pasar seni dan budaya, di mana berbagai potensi yang dimiliki oleh masyarakat Lembah Harau dan Limapuluh Kota dapat ditampilkan. Potensi dimaksud, tidak saja terdiri atas penampilan bentuk-bentuk pertunjukan seni, namun juga berbagai permainan rakyat, olahraga tradisional, jajanan dan makanan khas setempat, benda-benda kerajinan, serta pergelaran beberapa upacara tradisional. Nah, kenapa Anda harus datang ke festival ini?

1. SURGA TERSEMBUNYI
Di sana, di Kab. Limapuluh Kota, tersembunyi hamparan Lembah Granit berumur 30-40 juta tahun, seperti ratusan atap-atap rumah Minang di permadani alam. Keindahannya sudah dikenal sejak tahun 1926 (monumen bertandatangan Asisten Residen Belanda-F. Rinner, dan dua pejabat Indonesia-Tuanku Laras Datuk Kuning nan Hitam dan Datuk Kodoh nan Hitam). Tunggu, Anda juga masih mendapat bonus puluhan air terjun, cagar alam, dan suaka margasatwa seluas 270,5 Hektar.

Jika memilih melalui jalur Kota Padang, Anda akan ditemani jalur Kereta Api Kolonial yg mengular hingga pusat pendidikan Kayu Tanam dan Padang Panjang. Silahkan melempar ingatan pada para pendiri bangsa, sastra Minang, dan kebesaran arsitektural Kota Bukit Tinggi.

Jika memilih melalui jalur Kota Pekanbaru, siapkanlah mata (kamera) dan perut. Kelok Sembilan akan memanjakan mata, sekaligus menantang ketahanan perut. Sekarang atau menyesal seumur hidup!

2. MAKANAN DAN MINUMAN
Apa yang kau pikir dari campuran daging sapi terpilih, santan, bawang merah, bawang putih, daun kunyit, lengkuas, jahe, biji pala, daun sereh, daun jeruk, dan cita rasa Minang? Betul! Rendang! Ini bukan sembarang rendang, namun Rendang Hitam dari pusatnya di Desa Lubuak Batingkok!

Setiap Lebaran Haji, kemeriahan dan pesta kelezatan menjadi tradisi masyarakat Minang. Segala rempah dan kegembiraan bercampur dalam hidangan makanan. Rancak bana! Pasa Harau Art and Culture Festival sengaja dihelat di tengah kerihuan Lebaran haji, di tengah tradisi memanjakan lidah. Anda tidak hanya akan merasakan masakan yg tersaji di Rumah-rumah Makan Padang yang tersebar di Indonesia dan Dunia, namun juga kenikmatan yang selama ini hanya bisa dimiliki masyarakat asli.

Lagi-lagi, Pasa Harau Art and Culture Festiva memberi keistimewaan, menyajikan Kopi Kawa, kopi yang hanya dinikmati para buruh perkebunan kopi di masa lalu. Dengan daun kopi lokal pilihan yang disangrai selama 12 jam. Kemudian dicampur air dingin, lalu diseduh air mendidih, seperti menyeduh teh. Anda akan mengenang kembali sejarah bertahan hidup, cita-rasa sekitar, dan kepedulian.

3. MUSIK DAN PERTUNJUKAN
Pasa Harau Art and Culture memilih Talempong, Randai, Debus, dan Sijobang untuk tetamu yang hadir. Talempong merupakan ansambel musik tradisi yang terdiri dari talempong pacik, gendang, dan sikatuntuang. Sikatuntuang sebentuk kayu seperti lesung sang kemudian dihentak oleh dua kayu bulat (alu). Hentakan alu pada lesung tersebut kemudian menghasilkan bunyi-bunyi perkusif yang pada akhirnya diiringi oleh talempong dan gendang. Dahulu, Talempong dimainkan ketika panen padi di sawah.

Randai merupakan gabungan drama, tari, dan musik. Kesenian ini dimainkan secara berkelompok dengan membentuk legaran atau lingkaran, kemudian melangkahkan kaki secara pelahan sambil menyampaikan cerita (dialog) secara bergantian. Kesenian ini sangatlah populer di masyarakat Minangkabau, hampir setiap daerah di Minangkabau mempunyai kelompok Randai.

Sijobang merupakan kesenian musikal yang berkembang di Kabupaten 50 Koto dan Kota Payakumbuh. Sebuah kesenian yang mendendangkan cerita kaba Anggun Nan Tungga. Sijobang ini diiringi oleh instrumen musik Kecapi, orang menyebutnya dengan kecapi Pikumbuah. Selain itu, Basijobang juga dikenal dengan nama Sijontiak atau Basijontiak. Perbedaannya hanya pada instrumen yang digunakan, Basijontiak hanya menggunakan instrumen kotak korek api yang dijentik-jentikkan ke lantai.

Kesenian kekinian, yang lebih berkembang belakangan, juga kami hadirkan melalui mini konser dengan dukungan para seniman Minang, ISI Padang Panjang, dan inisiatif masyarakat sekitar.

4. PERMAINAN
Pernah menyaksikan Pacu Anjing? Sebuah perlombaan yang dilakukan untuk menguji seberapa kencangnya kekuatan anjing mengejar hewan buruan seperti babi hutan. Diujung garis finish diletakkan seekor babi di dalam kerangkeng sebagai pemancing untuk anjing-anjing peserta lomba untuk berpacu. Tentu suasana akan hingar bingar. Bagaimana anjing-anjing tersebut saling mendahului, saling menyalak satu sama lain, tentu saja anjing tercepatlah yang akan memenangkan pertandingan tersebut. Selain sebagai salah satu hiburan bagi masyarakat, pacu anjing juga sebagai ajang silaturahmi untuk masyarakat yang mempunyai hobi berburu babi. Pacu anjing tersebut tentu berbeda dengan pacu anjing yang dilaksanakan diberbagai negara seperti Australia misalnya, yaitu dengan menggunakan hewan hidup tanpa kerangkeng, sehingga dalam pacuan tersebut akan diperlihatkan bagaimana anjing-anjing buruan tersebut mencabik-cabik mangsa yang dijadikan umpan tersebut. Sedangkan di Sumatera Barat, umumnya hewan yang dijadikan pemancing dimasukkan kedalam kerangkeng dan berfungsi sebagai pemancing saja.

Anda juga berkesempatan menyaksikan lenggak-lenggok layang-layang beragam corak warna. Layangan ini seolah menjadi penanda bagi msayarakat lainnya tentang keadaan suatu daerah, semakin banyak layang-layang yang menghiasi langit pasca panen maka itu akan menandakan kemakmuran daerah tersebut. Menjelang musim panen tiba, membuat layang-layang menjadi kesibukan yang lain bagi kaum laki-laki.

Atau panjat kelapa dengan ketinggian pohon mencapai 30 Meter? Tentu sangat menarik menyaksikan orang memanjat pohon kelapa tersebut, dan kita ikut merasakan sensasi kengerian adrenalinnya. Tentunya bagi mereka yang sudah terlatih, memanjat tidak memerlukan waktu lama. Sedangkan bagi kita yang tidak biasa, sudah dapat dipastikan akan membuat keluar keringat di telapak kaki hanya dengan melihat orang memanjat saja.

Atau melihat keceriaan anak-anak Mancakau Baluik (menangkap belut) dan bermain Badia Batuang (bedil bambu)? Anda bisa menjadi bagiannya jika punya nyali!

5. BERSAMA MASYARAKAT MINANG
Anda bisa saja setiap hari mampir ke Rumah Makan Padang; Anda bisa saja setiap hari ke bertamasya ke ujung-ujung Sumatra Barat. Tapi Pasa Harau Art and Culture Festival memberi kesempatan kepada Anda menjadi bagain Masyarakat Lembah Harau. Anda akan menginap di rumah-rumah penduduk, mengenal keseharian, mendapatkan senyum ramah langsung dari empunya rumah.

Pasa Harau Art & Culture Festival adalah karya anak nagari Harau dan kami mengundang wisatawan dari manapun untuk datang tanpa dipungut biaya. Panitia menyediakan paket berbayar bagi pengunjung yang membutuhkan fasilitas transportasi, menginap dan makan. Satu lagi, bagi para jomblo, siapkan hati: Anda akan bertemu paras cantik dan ganteng Minang! Bawa jaket anti peluru, biar gak mati kalau ditembak hatinya! Eaaa… 😀

PASA HARAU: TENTANG KEINDAHAN ALAM DAN TRADISI MINANGKABAU

Sebelumnya, Harau adalah nama yang asing di telinga saya. Namun begitu menginjakkan kaki di sana, sesaat saya hanya bengong dan kagum akan keindahan alam yang super keren ini. Sawah yang menghijau sangat kontras dengan warna kuning kemerahan tebing granit setinggi 200an meter yang seakan menjadi benteng yang kokoh bagi kawasan tersebut. Belum lagi sejumlah air terjun menghiasi tebing tersebut. Tentu saja suatu yang mustahil bisa saya temui di Jogja 😀

Harau adalah nama kecamatan di kabupaten Limapuluh Kota, sekitar 18 km dari Payakumbuh, atau sekitar 138 km dari Padang, ibukota provinsi Sumatera Barat. Atau, bila ingin sport jantung – sebagaimana yang saya lakukan kemarin – kita bisa berangkat dari Pekanbaru menggunakan travel. Dengan rute ini kita akan melewati jembatan layang Kelok Sembilan yang sebelumnya hanya bisa saya nikmati di youtube. Namun, jalan yang menanjak dan turun serta berkelok-kelok, ditambah supir travel khas lintas Sumatera membuat penumpang – minimal saya – berasa kaki pengen banget nginjak rem! Tapi perjalanan semi horror tersebut terbayar lunas, bahkan lebih saat kita sudah sampai di kawasan lembah Harau.

Pasa Harau Art & Culture Festival adalah alasan saya bisa sampai di sini. Pasa yang berasal dari kata pasar atau keramaian, menjadi media untuk merepresentasikan budaya Minang. Nah, perpaduan alam yang indah dengan seni tradisi yang unik dan menarik adalah tujuan Pasa Harau menjadi satu event wisata eksotis. Oiya, belum lagi uni-uni yang cantik membuat jejaka manapun merasa betah tinggal di sana hhaaa….

Berdasar skala yang saya buat, Randai dan Silek Lacah berada di urutan atas dari sekian seni tradisi Minangkabau yang ditampilkan di Pasa Harau. Meski tidak berarti Tari Piriang, Pacu Anjing maupun seni dan permainan lainnya menjadi tidak menarik.

Randai dimainkan oleh sekelompok orang yang membentuk lingkaran, melakukan gerakan-gerakan yang dinamis dan rancak. Bahkan mereka memanfaatkan kain sarung yang mereka kenakan sebagai penambah bunyi-bunyian. Keren! Di sela-sela itu akan ada drama yang berwujud dialog atau pantun yang menceritakan sesuatu. Sayang, mereka menggunakan bahasa Minang sehingga saya 100% enggak paham mereka ngomong apa. Namun, gerakan-gerakan bergelombang yang rancak tersebut sangat menarik untuk ditonton.

Pada hari kedua Pasa Harau, dipertontonkan Silek Lacah atau Silek Lanyah atau silat yang dilakukan dalam kubangan lumpur. Di saat para tamu melakukan trekking, di suatu sawah mereka disuguhi pencak silat khas Minang yang konon berasal dari Padang Panjang ini. Para pemain saling beradu disertai tendangan, bantingan dan loncatan. Konon Silek Lanyah tidak hanya dimainkan dengan tangan kosong saja melainkan juga menggunakan senjata tajam seperti pisau atau senjata silek lainnya. Sayang pada penampilan kemarin mereka hanya beradu menggunakan tangan kosong. Cipratan lumpur dan air sawah menjadi efek yang menarik dan membuat penonton berdecak kagum.

Selain seni tradisi, yang menarik dari Pasa Harau adalah kulinernya! Makanan khas Minang yang kaya rempah dan bersantan membuat saya harus rela berat badan naik setelah hampir seminggu di sana. Rendang hitam dan ikan sambal tidak cukup disebut enak, namun enak banget! Selain itu masih ada teh Kawa Daun, yaitu seduhan daun kopi yang disajikan menggunakan tempurung kelapa. Rasanya unik dan eksotis.

Pasa Harau Art & Culture Festival menjadi kemasan yang menarik, membuat pengunjung mendapatkan semua yang ada di lembah Harau, baik kekayaan alam maupun seni budaya. Tapi kalau pengen uni Minang nan elok mestinya tetap harus berusaha sendiri.. 😀

 

sumber: aanprihandaya.com