Tebing-tebing cadas setinggi 100 hingga 500 meter itu berdiri tegak laksana benteng pelindung bagi warga yang tinggal di sekitarnya. Warnanya coklat kemerahan dengan sejumlah tumbuhan menggantung di beberapa bagian tebing. Di antara tebing-tebing yang berdiri kokoh itu terdapat celah berupa daratan dengan hamparan sawah menghijau. Warna hijau padi ibarat permadani di tengah bentangan batu-batu cadas yang menjulang menantang langit. Inilah Lembah Harau, satu tempat eksotik untuk menikmati panorama alam di Kabupaten 50 Kota. Apalagi dasar lembah ini juga dihuni sejumlah jenis binatang dan burung liar yang menambah suasana alami. Saya tidak takjub begitu megah karunia Tuhan untuk daerah ini. 

Berada di Taman Wisata Lembah Harau, saya serasa terkepung oleh benteng alam yang kokoh. Apalagi jika berada di dasar lembah tidak lama setelah hujan turun. Pelangi yang diyakini banyak orang sebagai selendang bidadari akan melintas membentung satu garis melengkung di sekitar lembah. Suasana ini makin menakjubkan jika kita berada di sekitar air terjun yang banyak terdapat di lembah ini. Paling tidak ada sekitar lima air terjun yang menarik untuk dikunjungi sebagai bagian dari cara menikmati Lembah Harau. Dari cerita yang beredar di tengah penduduk, serombongan bidadari berbusana putih pernah turun ke air terjun Sarasah Bunta di tahun 2008.

Selain Sarasah Bunta, air terjun lain yang cukup terkenal adalah Akar Berayun, Sarasah Murai, dan Air Terjun Sarasa Luluh. Kita bisa memilih mana yang kita suka untuk dinikmati. Air Terjun Aka Berayun terletak di kawasan Aka Barayun yang cocok untuk wisata keluarga. Di sini sudah tersedia kolam renang dan bagian tebing-tebingnya menarik untuk olahraga panjat tebing. Empat air terjun lain yang berada di kawasan Sarasah Bunta juga tidak kalah menarik untuk didatangi. Kawasan ini paling dikenal memiliki nilai historis dan hal-hal yang penuh mitos. Tidak sedikit yang meyakini masing-masing air terjun memiliki khasiat.

Daya tarik Lembah Harau bukan sekadar air terjun yang menawarkan pesona berbeda. Tebing batu itu diperkirakan sudah berusia 30-40 juta tahun. Tebing curam ini sering dibandingkan dengan Grand Canyon di Amerika. Namun, Harau juga disebut sebagai Lembah Yosemite di Indonesia karena memiliki keindahan seperti Taman Nasional Yosemite di Sierra Nevada, California, Amerika Serikat yang sudah tersohor ke seluruh dunia. Tapi, jika dirunut sesuai dengan legenda dan dongeng-dongeng yang menyelimutinya, Lembah Harau lebih mengasyikan untuk dijajaki lebih jauh.

Nama Harau punya cerita sendiri. Dalam bahasa warga lokal, Harau berarti ‘parau’ atau bersuara serak. Dulu, penduduk yang tinggal di atas Bukit Jambu sering menghadapi banjir dan longsor sehingga memicu kepanikan. Mereka sering berteriak-teriak histeris sehingga lama-lama suara mereka menjadi parau. Suara parau menjadi ciri khas penduduk setempat yang awalnya disebut ‘orau’ lalu berubah menjadi arau hingga bersalin ucapan menjadi ‘harau’. Kita bisa saja mencoba berteriak di lembah ini untuk mengukur seberapa jauh suara kita bisa didengar oleh orang lain. Teriakan kita akan menimbulka efek suara (echo) menggema dan memantul.

Tapi, Lembah Harau juga punya cerita lain yang terkait dengan legenda Puti Sari Banilai. Di masa lalu berlayarlah Maulana Kari, Raja Hindustan bersama permaisuri Sari Banun untuk merayakan pertunangan anaknya Sari Banilai dengan Bujang Juaro. Sebelum berlayar, dua anak manusia ini bersumpah jika Sari Banilai mengingkari janji pertunangan, dia disumpah menjadi batu. Sebaliknya jika Bujang Juaro yang ingkar janji, maka dia disumpah mejnadi ular naga. Kapal yang membawa Maulana Kari, Sari Banun, dan Sari Banilai terbawa arus dan terjepit di antara dua bukit besar. Agar tidak hanyut, Maulana Kari menambatkan sebuah batu yang kelak dikenal dengan Batu Tambatan Kapal.

Kapal layar ini selamat. Rajo Darah Putiah yang berkuasa di kawasan Lembaha Harau waktu itu mengizinkan keluarga Maulana Kari menetap. Raja Hindustan ini sudah pasrah tidak mungkin kembali ke negerinya. Karena itu mengetahui sumpah putrinya, dia berinisiatif menikahkan Sari Banilai dengan Rambun Pade, pemuda Harau. Dari pernikahan ini lahirlan seorang anak yang sangat disayang oleh Maulana Kari dan Sari Banun. Suatu hari, mainan si anak jatuh ke dalam laut dan dia memanggil ibunya untuk mengambil mainan. Sari Banilai melompat ke laut untuk mengambil dan dia terhanyut karena ombak sedang besar. Sari Banilai terseret hingga terjepit di antara dua batu besar lalu berdoa agar air segera surut.

Sari Banilai yang teringat sumpahnya khawatir dia bakal dikutuk menjadi batu. Sambil berdoa kepada Tuhan, dia minta dibawakan perlengkapan rumah tangga dan diletakkan di saping batu yang menjepitnya. Lambat laun kaki Sari Banilai membeku dan menjadi batu. Begitu pun bagian tubuh yang lain. Batu yang berbentuk seorang ibu sedang menggenok anak di salah satu bagian di Lembah Harau itu diyakini sebagai Sari Banilai yang termakan sumpahnya. Cerita yang masih hidup di tengah masyarakat Lembah Harau itu dikenal sebagai Randai Sari Banilai itu kemudian menjadi salah satu kesenian tradisional masyarakat Lembah Harau.

Sumber: AMBOYINDONESIA

%d bloggers like this: