Pasa Harau Berawal dari sebuah diskusi kecil yang diikuti oleh anak-anak muda pegiat seni budaya dan pariwisata dari Sumatera Barat dan Yogyakarta. Diskusi yang berpindah-pindah itu digelar di kantor Yayasan Umar Kayam dan Jogjo Abang Yogakarta. Dimulai dengan sebuah pandangan, bahwa di Sumatera Barat beberapa tahun terakhir begitu banyak festival yang digelar, namun hanya sedikit yang mampu bertahan. Festival-festival budaya tesebut digelar dengan biaya yang mahal, namun tidak menyentuh masyarakat sebagai pemilik kebudayaan, serta tidak melibatkan komunitas-komunitas lebih banyak.

Maka, muncul ide untuk membuat sebuah project kolaborasi kegiatan kebudayaan yang melibatkan masyarakat di sekitar lokasi festival. Melibatkan lebih banyak komunitas-komunitas masyarakat, seperti, komunitas seni tradisi lokal, pelaku pariwisata, seniman, sivitas akademika.

Lembah Harau, menjadi pilihan kedua setelah Maninjau dengan kekuatan bentang alam dengan danaunya. Tetapi Harau justru menjadi pilihan utama dikarenakan bentangan alam lebih spesifik. Di Indonesia, wisata alam berupa danau mungkin ada di banyak tempat. Namun, wisata alam dengan tebing-tebing tinggi yang terjal serta lembah-lembah sarasah hanya ada satu atau dua, salaha satunya ada di Harau. Lembah Harau.

Dinamakanlah gagasan itu dengan Pasa Harau. Sebuah perhelatan seni dan budaya yang digelar di Lembah Harau, Kabupaten Limapuluh Kota, Sumatera Barat. Semacam pilot pemberdayaan masyarakat di daerah wisata, yaitu sebuah peristiwa budaya yang dikelola oleh masyarakat disekitar lokasi wisata. Dimana, festival sebagai piranti baru “menjual” potensi-potensi seni dan budaya serta kepariwisataan yang selama ini luput dari kesadaran masyarakatnya.Kesadaran yang dimaksud adalah tentang kepemilikan, bahwa masyarakat bukanlah penonton yang hanya berdiri di balik etalase penjualan kepariwisataan yang selama ini dikelola Pemerintah. Melainkan, sebagai pelaku utama untuk menentukan keberlangsungan ekosistem seni budaya serta destinasi wisata yang ada di daerah mereka.

Maka dari itu, dipetakanlah segala potensi yang dimiliki untuk dijadikan modal dasar yang akan diproyeksikan semacam “pasar” yang selalu dikunjungi banyak orang. Pertama, modal kultural, modal yang akan digerakkan. Katakanlah landscape alam dengan bebatuan terjal, lembah-lembah sarasah, jajanan dan kuliner yang khas, benda-benda kerajinan, permainan-permainan rakyat, kekayaan seni dan budaya berupa pertunjukan-pertunjukan kesenian, serta pergelaran-pergelaran upacara tradisional. Kedua,modal intelektual,yaitu komunitas-komunitas anak muda kreatif , serta masyarakat Harau yang mau untuk belajar bersama, berbagi pengetahuan, kemudian mencipta peristiwa budaya.

Modal ini yang kemudian oleh Komunitas Lembah Harau dikemas kedalam bentuk perayaan seni dan budaya yang dinamakan dengan Pasa Harau Art & Culture Festival. Menggunakan kata Pasa yakni kata Minangkabau yang berarti pasar yang juga berarti keramaian. Keramaian yang berisi masyarakat seni budaya, baik itu produsen, konsumen, fasilitator atau sponsor, pencatat, serta networker.

Tentu harapannya, bahwa festival bukan hanya sebuah perayaan-perayaan dengan euforia temporer yang menguntungkan pihak penyelenggara saja. Melainkan sebuah upaya membentuk ekosistem seni dan budaya dalam ruang lingkup pasiwisata yang beresonansi pada kehidupan disekelilingnya. Dimana modal kultural dan modal intelektual dapat dimunculkan secara massif, karena Lembah Harau sedang didorong menjadi pasar yang akan dikunjungi oleh pengunjung beragam latar belakang.

Maka, Pasa Harau Art & Culture Festival menjadi sebuah piranti baru dalam dunia kepariwisataan yang mengelaborasi wisata alam, wisata kuliner, wisata sejarah, wisata budaya, seni petunjukan, upacara-upacara tradisional.Dengan semangat kolaboratif dan kolektif melibatkan komunitas seni tradisi lokal di sekitar Lembah Harau, pelaku pariwisata, seniman, sivitas akademika dan para pegiat kebudayaan. Inilah yang kemudian membedakan festival ini dengan festival lainnya.

Menginisiasi Program Kerja Sebagai Sebuah Peristiwa Budaya

Untuk menjawab tantangan bahwa festival sejatinya adalah alat untuk menggerakkan kebudayaan sebuah masyarakat, maka disusunlah program-program kerja budaya yang dielaborasi dalam sebuah peristiwa kebudayaan.

Harau Peforming Art

Harau  Peforming Art (HARPA) adalah program acara pada perhelatan seni dan budaya Pasa Harau Art & Culture Festival 2018.Harau Performing Art diinisiasi untuk memfasilitasi seniman-seniman serta kelompok-kelompok kesenian kontemporer Sumatera Barat untuk mempresentasikan karyanya di tengah-tengah masyarakat, baik itu karya tari, musik, teater. Harau Performing Artteruntuk bagi karya anak-anak muda Sumatera Barat, baik yang berdomisili di Sumatera Barat ataupun diluar Sumatera Barat. Bagaimana kemudian seniman muda membaca tradisinya (Minangkabau), dan menentukan sikapnya atas itu.

Kehadiran Harau Peforming Art dilatar belakangi oleh pandangan tentang kesenian kita hari ini, bahwa kesenian kita semakin bergerak kearah elitisme dan tidak menyentuh masyarakat dipenjuru pedesaan. Kecendrungan kesenian, katakanlah seni pertunjukan kita, kerap dipentaskan di gedung-gedung pertunjukan yang terbatas penonton. Seolah hanya bisa dinikmati oleh beberapa kalangan saja, seperti kalangan seniman itu sendiri, produser-produser seni, penonton yang ada digedung pertunjukan itu, serta penulis pertunjukan.

Jikapun penulis atau kritikus mampu bisa menjebatani karya seni dipertunjukan dengan masyarakat luas, tentu juga teruntuk pada mereka yang sempat membaca media-media pembeitaan budaya. Sebutlah media-media online, ataupun media cetak. Lantas, bagaiamana dengan masyarakat-masyarakat yang tidak tersentuh akses tesebut?

Yang lebih ironis adalah ketika seni pertunjukan modern kita kehilangan konteksnya. Ketika semangat kekaryaan seniman terbaca lewat roh kesenian tradisi, semacam membaca ulang kesenian tradisi melalui karya-karya kontemporer. Namun sayangnya, karya itu dipresentasikan pada masyarakat lain yang jauh dari masyarakat itu sendiri. Inilah yang kemudian dibaca oleh Pasa Harau melalui Harau Peforming Art, semacam upaya mengembalikan kesenian ketengah-tengah masyarakat.

Kemudian pada persoalan yang lain, tidak munculnya seniman-seniman dari generasi yang lebih muda, sehingga juga berakibat kurangnya penikmat atau penonton seni petunjukan dari generasi yang lebih muda. Kecuali memang kesenian-kesenian yang sifatnya lebih populis.

Untuk itu, tentu tema ini merupakan satu penawaran yang menarik, dengan penekanan anak muda sebagai pendekatan sebuah festival. Baik itu sebagai pelaku festival itu sendiri, sebagai seniman pengisi acara. Serta bagaimana kemudian anak muda dan masyarakat pedesaan merespon karya-karya kesenian modern kita.

Gelanggang Harau Dan Pemainan Anak Nagari

Agaknya, seni pertunjukan modern kita semakin menampakkan perkembangannya. Hal ini ditandai dengan banyaknya bermuncul seniman-seniman serta kelompok-kelompok seni kontemporer yang menjadikan kesenian tradisi sebagai roh penciptaannya. Ini tentu sebuah pertanda baik, bahwa kesenian tradisi menjadi penting untuk identitas untuk karya-karya baru. Disamping itu, keutuhan kesenian tradisi itu tentu juga perlu diberi ruang lebih luas, serta upaya-upaya untuk mengalihkan kegenerasi yang lebih muda. Sehingga, baik kesenian kontemporer maupun kesenian tradisi bisa maju bersamaan seiring sejalan.

Upaya-upaya tersebut ada dan sangat banyak kita temui, baik program-program pemerintah ataupun komunitas-komunitas kesenian. Namun, tentu tidak ada kata cukup untuk itu. Pasa Harau Art & Culture Festival senantiasa juga memberi ruang untuk itu. Melalui program Galanggang Harau dan Permainan Anak Nagari salah satunya. Merupakan kegiatan yang menampilkan serta menonjolkan kesenian tradisi Sumatera Barat, terutama dari luhak Limapuluh khususnya, serta Sumatera Barat umumnya. Serta juga mengenalkan kembali kepada khalayak luas tentang permainan-permainan anak nagari yang semakin hari nyaris tidak diminati lagi.

Lalu bagaimana menyangkutkan upaya tesebut kepada generasi yang lebih muda? tentu akan menjadi lain jika generasi-generasi yang lebih muda tersebut dipertemukan dalam satu peristiwa kebudayaan. Antara pelaku dan penonton. Bagaimana anak-anak muda menonton tradisinya sendiri, yang dilakoni juga oleh anak muda, atau bagaimana pula penonton generasi yang lebih tua menyaksikan kesenian pada masanya, kemudian diperankan oleh generasi yang lebih muda. Tentu kita tidak bisa mengira, pergeseran-pergeseran apa yang kemudian bisa saling dibicarakan antar anak muda tesebut.

Melalui Galanggang Harau dan Permainan Anak Nagari ini diharapkan masih terjaganya semacam keberlangsungan peristiwa budaya (kesenian). Kesenian dan/atau permainan anak nagari masih dimainkan serta masih ada masyarakat yang menjadi penikmat atau penonton kesenian tersebut.

Haraukustik

Musik popular kita pahami sebagai sebuah genre musik yang diminati secara masif oleh anak-anak muda. Di Sumatera Barat agaknya genre musik ini tidak menampakkan pekembangan yang cukup signifikan. Sangat berbeda dengan dengan musik-musik pop yang berbahasa Minang, musik ini serupa satu genre pula. Dimana genre musik ini sangat banyak melahirkan penyanyi-penyanyi muda berbakat. Genre musik popular berbahasa Minang ini, paling tidak di Sumatera Barata tampak sangat kompetitif, dilihat dari banyaknya label-label baru yang berani habis-habisan mensponsori penyanyi-penyanyinya.

Lalu, bagaimana dengan musik-musik popular altenatif anak-anak muda di Sumatera Barat?

Tampaknya, tidak banyak memang grup-grup musik atau penyanyi-penyanyi lagu popular alternatif di Sumatera Barat yang konsisten untuk berkarir dibidang ini. Padahal, jika kita lihat secara kuantitas dan kualitas anak-anak muda Sumatera Barat tak kalah terampil dan tak kalah banyaknya yang meminati bidang ini. Dan, secara skill pun kiranya mereka mampu untuk menyaingi anak-anak muda kota-kota lainnya. Meskipun ada beberapa kelompok musik yang berani memilih dan menekuninya lalu kemudian memilih Jakarta untuk tempat berkompetisi.

Tentu itu pola lama, hari ini sangat jauh berbeda. Ketika semangat indiependen kembali merambahi anak muda Indonesia, serta didorong oleh rasa jengah akan perkembangan industri musik Indonesia yang konon katanya cinta melulu dan begitu “melayu”, dalam pada itu, grup-grup musik indi menjadi pilihan. Maka, selera musik pun mulai berubah. Semangat indiependen tesebut membuat grup-grup musik hari ini mulai berani berkarya dan memasarkan sendiri karya-karya mereka dengan memanfaatkan teknologi informasi, serta fenomena coffeshop juga memberi ruang bagi mereka untuk mempresentasikan karya-karya mereka.

Namun, tidak juga terdengar grup-grup musik dari Sumatera Barat. Atau, di Sumatera Barat tidak memiliki semacam piranti, katakanlah semacam industri yang mendukung untuk menunjang keberlangsungan genre musik ini. Industri yang dimaksud bukanlah soal membuat karya sebanyak-banyaknya lalu ada yang menjual dan ada yang membeli. Tetapi lebih kepada ekosistim musik itu sendiri, maka Haraukustik adalah sebuah upaya untuk itu.

Haraukustik merupakan program acara Pasa Harau Art & Culture Festival mewadahi grup-grup musik popular, baik yang berasal dari Sumatera Barat ataupun luar Sumatera Barat. Sebuah panggung untuk anak muda yang hobi bermusik dengan format akustik. Kenapaa akustik, tidak lain supaya lebih santai serta menambah romantika ambien alam Harau yang sudah sangat sendu. Bukankah itu yang diinginkan oleh anak muda? maka, pada akhirnya Haraukustik menjadi tempat bertemunya musisi-musisi muda Sumatera Barat untuk kemudian saling berjejaring, saling merespon dengan karya, saling berbagi peluang-peluang dan strategi, dan tentunya bekeja sama untuk musik itu sendiri.

Jelajah Harau

Jelajah Harau menjadi jualan utama Pasa Harau. Pengunjung akan diajak menjelajahi Harau tidak hanya soal wisata alam yang ada di Harau atau di Kabupaten Limapuluh Kota pada umumnya, tetapi diajak kedalam kehidupan masyarakat Harau itu sendiri. Pengunjung akan diajak dan diajar bagaimana masyarakat mengolah gambir yang katanya Harau sebagai produsen terbesar di Sumatera Barat. Selain itu, juga sentra-sentra kuliner khas Harau, dan tak kalah serunya mengunjungi sudut-sudut Harau, serta ketinggian-ketinggian Harau yang belum banyak tejamah. Disini pengunjung akan menyaksikan bagaiamana panorama alam Harau dari ketinggian bukit-bukit asri Harau.

Responsibility Adalah Kekuatan Anak Muda

Tentu Pasa Harau tidak digagas untuk mengotomi anatara genarasi muda dan genarasi tua. Entah kenapa pada pelaksanaannya festival keren ini didominasi oleh anak muda. Anak-anak muda yang sebenarnya juga sedang gelisah untuk mencari tempat bergerak bersama, belajar bersama untuk mencipta sesuatu. Memang, jika dibandingkan dengan gerakan-gerakan anak muda di kota-kota lain, katakanlah Yogyakarta, Jakarta, dan Bandung, anak muda di Sumatera Barat pada umumnya belum terbaca secara community base, meskipun secara personal ada beberapa anak muda yang telah bekiprah dibidangnya, bahkan secara nasional.

Barangkali, selama ini di Sumatera Barat tidak ada ruang untuk bertemunya komunitas-komunitas anak muda. Secara kerja komunitas tidak banyak anak-anak muda Sumatera Barat yang memilik akses jejaring yang lebih luas, meskipun itu ada, namun cendrung tidak berbagi. Maka, ketika Pasa Harau memberi ruang tersebut, seolah anak muda—terutama kota Payakumbuh dan Kabupaten Limapuluh Kota—mendapat semacam tempat bertemu, berbagi pengetahuan bersama, berkarya bersama, berbagi jejaring, dan mencipta peristiwa.

Untuk itu, Pasa Harau Art & Culture Festival 2018 mencoba menghubungkan anak-anak muda Sumatea Barat. Baik itu sebagai penyelenggara festival, pegiat komunitas, pelaku seni budaya, para penulis muda, untuk bagaimana kemudian mengimpun kekuatan untuk mencipta sebuah peristiwa budaya yang lebih besar. Semacam tempat bersekolahnya anak muda, sekolah untuk memetakan persoalan masyarakatnya, lalu membuat gerakan atas soal-soal itu.

Sehingga, kehadiran Pasa Harau menjadi penting untuk mengakomodir serta memberi peluang-peluang strategis untuk komunitas-komunitas anak muda. Karena Pasa Harau telah menjadi semacam simpul untuk menyimpan modal simbolis mereka, modal sosial, serta modal kultural anak muda.

Ditulis oleh: Roni Keron (Kurator Pasa Harau)

 

%d bloggers like this: