Sejumlah penari menampilkan tari kolosal yang berjudul Rantrak Saragam Mayintak Bumi saat mengikuti Festival Pesona Budaya Minangkabau 2016 di Istano Basa Pagaruyung, Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat, Kamis (27/10).(Antara/Muhammad Arif Pribadi)

REPUBLIKA.CO.ID, LIMAPULUH KOTA — Untuk ke-2 kalinya, Pasa Harau Art & Culture Festival akan digelar pada tanggal 25-27 Agustus 2017 di Nagari Harau, Kabupaten Limapuluh Kota, Sumatera Barat. Direktur penyelenggara festival Dede Pramayoza mengungkapkan, festival yang digelar atas kerja sama Komunitas Harau ini akan menyuguhkan beragam atraksi kebudayaan yang menarik dan langka bagi para traveler dan pengunjung yang hadir dalam Pasa Harau Art & Culture Festival kali ini.

Menurut Dede, Festival ini terselenggara berkat dukungan masyarakat Lembah Harau dan pemerintah Nagari Harau. Masyarat Nagari Harau bergotong-royong menyiapkan pertunjukan, rumah untuk menginap, dan ragam seni instalasi.

“Pemerintah Nagari bahkan mengalokasikan anggaran sejumlah 25 juta untuk mendukung acara ini,” kata Dede, Jumat (25/8) kemarin.

Selain itu, Direktur Produksi Dedi Novaldi (33) menyebutkan bahwa konten acara dalam Pasa Harau Art & Culture Festival tahun ini lebih banyak dibanding tahun lalu. Bahkan, khusus acara Haraukustik, panitia mengundang musisi senior Fariz RM yang akan hadir menjadi bintang tamu dalam pertunjukan musik yang bakal digelar Sabtu (26/8) malam nanti.

“Selain ragam seni pertunjukan tradisi, kami juga menyuguhkan pertunjukan pacu jawi, pacu itiak, silek lancah, minum 1001 kopi kawa daun, dan workshop randai bagi traveler dab wisatawan,” ujar Dedi.

Penyelenggara Pasa Harau Art & Culture Festival telah mengundang Kementrian Pariwisata untuk membuka Festival yang direncanakan dibuka pada tanggal Sabtu pagi ini. Dedi memperkirakan akan dihadiri oleh 5 ribu pengunjung, beberapa diantaranya adalah wisatawan asing seperti tahun lalu.

Pada kesempatan yang sama, Budhi Hermanto salah satu pegiat kebudayaan menyatakan bahwa ia beserta sejumlah relawan membantu Pasa Harau Art & Culture Festival ini sebagai upaya pemberdayaan masyarakat dalam gerakan kebudayaan dan pariwisata sekaligus.

“Menurut saya, pemerintah, dalam hal ini Kementrian Pariwisata RI sudah tepat berperan sebagai fasilitator dalam penyelenggaraan Festival yang tumbuh dari bawah seperti pasaharau ini,” kata Budhi.

Selama tiga hari penyelenggaraan, festival yang didukung Kementerian Pariwisata ini bakal menyuguhkan ragam kebudayaan masyarakat sekitar Lembah Harau, permainan tradisional hingga pertunjukan musik akustik dengan menghadirkan musisi senior Fariz RM.

Deputi Pengembangan Pemasaran Pariwisata Nusantara (BP3N) Kementerian Pariwista Esthy Reko Astuti mendukung terselenggaranya kembali festival yang diinisiasi komunitas masyarakat Nagari Harau. Pasa Harau Art & Culture Festival menurut wanita berkerudung ini berbeda dengan kegiatan serupa di Indonesia.

Pengunjung atau wisatawan yang jadi peserta akan diajak terlibat langsung menjadi bagian kegiatan kebudayaan di masyarakat sekitar Lembah Harau.

“Wisatawan akan tinggal di rumah-rumah penduduk, merasakan dan berinteraksi langsung sebagai penghuni Lembah Harau. Serta saling terlibat dalam ragam workshop seni pertunjukan yang akan digelar di tengah festival berlangsung,” ujar Esthy.

Dengan kolaborasi yang baik antara komunitas masyarakat Nagari Harau dengan pemangku kepentingan terkait, maka diharapkan festival ini dapat menjadi pasar seni dan budaya.

Sumber: republika.co.id

%d bloggers like this: