PASA HARAU ART & CULTURE FESTIVAL 2018: Inisiasi & Responsibility Anak Muda Dalam Peristiwa Budaya

Pasa Harau Berawal dari sebuah diskusi kecil yang diikuti oleh anak-anak muda pegiat seni budaya dan pariwisata dari Sumatera Barat dan Yogyakarta. Diskusi yang berpindah-pindah itu digelar di kantor Yayasan Umar Kayam dan Jogjo Abang Yogakarta. Dimulai dengan sebuah pandangan, bahwa di Sumatera Barat beberapa tahun terakhir begitu banyak festival yang digelar, namun hanya sedikit yang mampu bertahan. Festival-festival budaya tesebut digelar dengan biaya yang mahal, namun tidak menyentuh masyarakat sebagai pemilik kebudayaan, serta tidak melibatkan komunitas-komunitas lebih banyak.

Maka, muncul ide untuk membuat sebuah project kolaborasi kegiatan kebudayaan yang melibatkan masyarakat di sekitar lokasi festival. Melibatkan lebih banyak komunitas-komunitas masyarakat, seperti, komunitas seni tradisi lokal, pelaku pariwisata, seniman, sivitas akademika.

Lembah Harau, menjadi pilihan kedua setelah Maninjau dengan kekuatan bentang alam dengan danaunya. Tetapi Harau justru menjadi pilihan utama dikarenakan bentangan alam lebih spesifik. Di Indonesia, wisata alam berupa danau mungkin ada di banyak tempat. Namun, wisata alam dengan tebing-tebing tinggi yang terjal serta lembah-lembah sarasah hanya ada satu atau dua, salaha satunya ada di Harau. Lembah Harau.

Dinamakanlah gagasan itu dengan Pasa Harau. Sebuah perhelatan seni dan budaya yang digelar di Lembah Harau, Kabupaten Limapuluh Kota, Sumatera Barat. Semacam pilot pemberdayaan masyarakat di daerah wisata, yaitu sebuah peristiwa budaya yang dikelola oleh masyarakat disekitar lokasi wisata. Dimana, festival sebagai piranti baru “menjual” potensi-potensi seni dan budaya serta kepariwisataan yang selama ini luput dari kesadaran masyarakatnya.Kesadaran yang dimaksud adalah tentang kepemilikan, bahwa masyarakat bukanlah penonton yang hanya berdiri di balik etalase penjualan kepariwisataan yang selama ini dikelola Pemerintah. Melainkan, sebagai pelaku utama untuk menentukan keberlangsungan ekosistem seni budaya serta destinasi wisata yang ada di daerah mereka.

Maka dari itu, dipetakanlah segala potensi yang dimiliki untuk dijadikan modal dasar yang akan diproyeksikan semacam “pasar” yang selalu dikunjungi banyak orang. Pertama, modal kultural, modal yang akan digerakkan. Katakanlah landscape alam dengan bebatuan terjal, lembah-lembah sarasah, jajanan dan kuliner yang khas, benda-benda kerajinan, permainan-permainan rakyat, kekayaan seni dan budaya berupa pertunjukan-pertunjukan kesenian, serta pergelaran-pergelaran upacara tradisional. Kedua,modal intelektual,yaitu komunitas-komunitas anak muda kreatif , serta masyarakat Harau yang mau untuk belajar bersama, berbagi pengetahuan, kemudian mencipta peristiwa budaya.

Modal ini yang kemudian oleh Komunitas Lembah Harau dikemas kedalam bentuk perayaan seni dan budaya yang dinamakan dengan Pasa Harau Art & Culture Festival. Menggunakan kata Pasa yakni kata Minangkabau yang berarti pasar yang juga berarti keramaian. Keramaian yang berisi masyarakat seni budaya, baik itu produsen, konsumen, fasilitator atau sponsor, pencatat, serta networker.

Tentu harapannya, bahwa festival bukan hanya sebuah perayaan-perayaan dengan euforia temporer yang menguntungkan pihak penyelenggara saja. Melainkan sebuah upaya membentuk ekosistem seni dan budaya dalam ruang lingkup pasiwisata yang beresonansi pada kehidupan disekelilingnya. Dimana modal kultural dan modal intelektual dapat dimunculkan secara massif, karena Lembah Harau sedang didorong menjadi pasar yang akan dikunjungi oleh pengunjung beragam latar belakang.

Maka, Pasa Harau Art & Culture Festival menjadi sebuah piranti baru dalam dunia kepariwisataan yang mengelaborasi wisata alam, wisata kuliner, wisata sejarah, wisata budaya, seni petunjukan, upacara-upacara tradisional.Dengan semangat kolaboratif dan kolektif melibatkan komunitas seni tradisi lokal di sekitar Lembah Harau, pelaku pariwisata, seniman, sivitas akademika dan para pegiat kebudayaan. Inilah yang kemudian membedakan festival ini dengan festival lainnya.

Menginisiasi Program Kerja Sebagai Sebuah Peristiwa Budaya

Untuk menjawab tantangan bahwa festival sejatinya adalah alat untuk menggerakkan kebudayaan sebuah masyarakat, maka disusunlah program-program kerja budaya yang dielaborasi dalam sebuah peristiwa kebudayaan.

Harau Peforming Art

Harau  Peforming Art (HARPA) adalah program acara pada perhelatan seni dan budaya Pasa Harau Art & Culture Festival 2018.Harau Performing Art diinisiasi untuk memfasilitasi seniman-seniman serta kelompok-kelompok kesenian kontemporer Sumatera Barat untuk mempresentasikan karyanya di tengah-tengah masyarakat, baik itu karya tari, musik, teater. Harau Performing Artteruntuk bagi karya anak-anak muda Sumatera Barat, baik yang berdomisili di Sumatera Barat ataupun diluar Sumatera Barat. Bagaimana kemudian seniman muda membaca tradisinya (Minangkabau), dan menentukan sikapnya atas itu.

Kehadiran Harau Peforming Art dilatar belakangi oleh pandangan tentang kesenian kita hari ini, bahwa kesenian kita semakin bergerak kearah elitisme dan tidak menyentuh masyarakat dipenjuru pedesaan. Kecendrungan kesenian, katakanlah seni pertunjukan kita, kerap dipentaskan di gedung-gedung pertunjukan yang terbatas penonton. Seolah hanya bisa dinikmati oleh beberapa kalangan saja, seperti kalangan seniman itu sendiri, produser-produser seni, penonton yang ada digedung pertunjukan itu, serta penulis pertunjukan.

Jikapun penulis atau kritikus mampu bisa menjebatani karya seni dipertunjukan dengan masyarakat luas, tentu juga teruntuk pada mereka yang sempat membaca media-media pembeitaan budaya. Sebutlah media-media online, ataupun media cetak. Lantas, bagaiamana dengan masyarakat-masyarakat yang tidak tersentuh akses tesebut?

Yang lebih ironis adalah ketika seni pertunjukan modern kita kehilangan konteksnya. Ketika semangat kekaryaan seniman terbaca lewat roh kesenian tradisi, semacam membaca ulang kesenian tradisi melalui karya-karya kontemporer. Namun sayangnya, karya itu dipresentasikan pada masyarakat lain yang jauh dari masyarakat itu sendiri. Inilah yang kemudian dibaca oleh Pasa Harau melalui Harau Peforming Art, semacam upaya mengembalikan kesenian ketengah-tengah masyarakat.

Kemudian pada persoalan yang lain, tidak munculnya seniman-seniman dari generasi yang lebih muda, sehingga juga berakibat kurangnya penikmat atau penonton seni petunjukan dari generasi yang lebih muda. Kecuali memang kesenian-kesenian yang sifatnya lebih populis.

Untuk itu, tentu tema ini merupakan satu penawaran yang menarik, dengan penekanan anak muda sebagai pendekatan sebuah festival. Baik itu sebagai pelaku festival itu sendiri, sebagai seniman pengisi acara. Serta bagaimana kemudian anak muda dan masyarakat pedesaan merespon karya-karya kesenian modern kita.

Gelanggang Harau Dan Pemainan Anak Nagari

Agaknya, seni pertunjukan modern kita semakin menampakkan perkembangannya. Hal ini ditandai dengan banyaknya bermuncul seniman-seniman serta kelompok-kelompok seni kontemporer yang menjadikan kesenian tradisi sebagai roh penciptaannya. Ini tentu sebuah pertanda baik, bahwa kesenian tradisi menjadi penting untuk identitas untuk karya-karya baru. Disamping itu, keutuhan kesenian tradisi itu tentu juga perlu diberi ruang lebih luas, serta upaya-upaya untuk mengalihkan kegenerasi yang lebih muda. Sehingga, baik kesenian kontemporer maupun kesenian tradisi bisa maju bersamaan seiring sejalan.

Upaya-upaya tersebut ada dan sangat banyak kita temui, baik program-program pemerintah ataupun komunitas-komunitas kesenian. Namun, tentu tidak ada kata cukup untuk itu. Pasa Harau Art & Culture Festival senantiasa juga memberi ruang untuk itu. Melalui program Galanggang Harau dan Permainan Anak Nagari salah satunya. Merupakan kegiatan yang menampilkan serta menonjolkan kesenian tradisi Sumatera Barat, terutama dari luhak Limapuluh khususnya, serta Sumatera Barat umumnya. Serta juga mengenalkan kembali kepada khalayak luas tentang permainan-permainan anak nagari yang semakin hari nyaris tidak diminati lagi.

Lalu bagaimana menyangkutkan upaya tesebut kepada generasi yang lebih muda? tentu akan menjadi lain jika generasi-generasi yang lebih muda tersebut dipertemukan dalam satu peristiwa kebudayaan. Antara pelaku dan penonton. Bagaimana anak-anak muda menonton tradisinya sendiri, yang dilakoni juga oleh anak muda, atau bagaimana pula penonton generasi yang lebih tua menyaksikan kesenian pada masanya, kemudian diperankan oleh generasi yang lebih muda. Tentu kita tidak bisa mengira, pergeseran-pergeseran apa yang kemudian bisa saling dibicarakan antar anak muda tesebut.

Melalui Galanggang Harau dan Permainan Anak Nagari ini diharapkan masih terjaganya semacam keberlangsungan peristiwa budaya (kesenian). Kesenian dan/atau permainan anak nagari masih dimainkan serta masih ada masyarakat yang menjadi penikmat atau penonton kesenian tersebut.

Haraukustik

Musik popular kita pahami sebagai sebuah genre musik yang diminati secara masif oleh anak-anak muda. Di Sumatera Barat agaknya genre musik ini tidak menampakkan pekembangan yang cukup signifikan. Sangat berbeda dengan dengan musik-musik pop yang berbahasa Minang, musik ini serupa satu genre pula. Dimana genre musik ini sangat banyak melahirkan penyanyi-penyanyi muda berbakat. Genre musik popular berbahasa Minang ini, paling tidak di Sumatera Barata tampak sangat kompetitif, dilihat dari banyaknya label-label baru yang berani habis-habisan mensponsori penyanyi-penyanyinya.

Lalu, bagaimana dengan musik-musik popular altenatif anak-anak muda di Sumatera Barat?

Tampaknya, tidak banyak memang grup-grup musik atau penyanyi-penyanyi lagu popular alternatif di Sumatera Barat yang konsisten untuk berkarir dibidang ini. Padahal, jika kita lihat secara kuantitas dan kualitas anak-anak muda Sumatera Barat tak kalah terampil dan tak kalah banyaknya yang meminati bidang ini. Dan, secara skill pun kiranya mereka mampu untuk menyaingi anak-anak muda kota-kota lainnya. Meskipun ada beberapa kelompok musik yang berani memilih dan menekuninya lalu kemudian memilih Jakarta untuk tempat berkompetisi.

Tentu itu pola lama, hari ini sangat jauh berbeda. Ketika semangat indiependen kembali merambahi anak muda Indonesia, serta didorong oleh rasa jengah akan perkembangan industri musik Indonesia yang konon katanya cinta melulu dan begitu “melayu”, dalam pada itu, grup-grup musik indi menjadi pilihan. Maka, selera musik pun mulai berubah. Semangat indiependen tesebut membuat grup-grup musik hari ini mulai berani berkarya dan memasarkan sendiri karya-karya mereka dengan memanfaatkan teknologi informasi, serta fenomena coffeshop juga memberi ruang bagi mereka untuk mempresentasikan karya-karya mereka.

Namun, tidak juga terdengar grup-grup musik dari Sumatera Barat. Atau, di Sumatera Barat tidak memiliki semacam piranti, katakanlah semacam industri yang mendukung untuk menunjang keberlangsungan genre musik ini. Industri yang dimaksud bukanlah soal membuat karya sebanyak-banyaknya lalu ada yang menjual dan ada yang membeli. Tetapi lebih kepada ekosistim musik itu sendiri, maka Haraukustik adalah sebuah upaya untuk itu.

Haraukustik merupakan program acara Pasa Harau Art & Culture Festival mewadahi grup-grup musik popular, baik yang berasal dari Sumatera Barat ataupun luar Sumatera Barat. Sebuah panggung untuk anak muda yang hobi bermusik dengan format akustik. Kenapaa akustik, tidak lain supaya lebih santai serta menambah romantika ambien alam Harau yang sudah sangat sendu. Bukankah itu yang diinginkan oleh anak muda? maka, pada akhirnya Haraukustik menjadi tempat bertemunya musisi-musisi muda Sumatera Barat untuk kemudian saling berjejaring, saling merespon dengan karya, saling berbagi peluang-peluang dan strategi, dan tentunya bekeja sama untuk musik itu sendiri.

Jelajah Harau

Jelajah Harau menjadi jualan utama Pasa Harau. Pengunjung akan diajak menjelajahi Harau tidak hanya soal wisata alam yang ada di Harau atau di Kabupaten Limapuluh Kota pada umumnya, tetapi diajak kedalam kehidupan masyarakat Harau itu sendiri. Pengunjung akan diajak dan diajar bagaimana masyarakat mengolah gambir yang katanya Harau sebagai produsen terbesar di Sumatera Barat. Selain itu, juga sentra-sentra kuliner khas Harau, dan tak kalah serunya mengunjungi sudut-sudut Harau, serta ketinggian-ketinggian Harau yang belum banyak tejamah. Disini pengunjung akan menyaksikan bagaiamana panorama alam Harau dari ketinggian bukit-bukit asri Harau.

Responsibility Adalah Kekuatan Anak Muda

Tentu Pasa Harau tidak digagas untuk mengotomi anatara genarasi muda dan genarasi tua. Entah kenapa pada pelaksanaannya festival keren ini didominasi oleh anak muda. Anak-anak muda yang sebenarnya juga sedang gelisah untuk mencari tempat bergerak bersama, belajar bersama untuk mencipta sesuatu. Memang, jika dibandingkan dengan gerakan-gerakan anak muda di kota-kota lain, katakanlah Yogyakarta, Jakarta, dan Bandung, anak muda di Sumatera Barat pada umumnya belum terbaca secara community base, meskipun secara personal ada beberapa anak muda yang telah bekiprah dibidangnya, bahkan secara nasional.

Barangkali, selama ini di Sumatera Barat tidak ada ruang untuk bertemunya komunitas-komunitas anak muda. Secara kerja komunitas tidak banyak anak-anak muda Sumatera Barat yang memilik akses jejaring yang lebih luas, meskipun itu ada, namun cendrung tidak berbagi. Maka, ketika Pasa Harau memberi ruang tersebut, seolah anak muda—terutama kota Payakumbuh dan Kabupaten Limapuluh Kota—mendapat semacam tempat bertemu, berbagi pengetahuan bersama, berkarya bersama, berbagi jejaring, dan mencipta peristiwa.

Untuk itu, Pasa Harau Art & Culture Festival 2018 mencoba menghubungkan anak-anak muda Sumatea Barat. Baik itu sebagai penyelenggara festival, pegiat komunitas, pelaku seni budaya, para penulis muda, untuk bagaimana kemudian mengimpun kekuatan untuk mencipta sebuah peristiwa budaya yang lebih besar. Semacam tempat bersekolahnya anak muda, sekolah untuk memetakan persoalan masyarakatnya, lalu membuat gerakan atas soal-soal itu.

Sehingga, kehadiran Pasa Harau menjadi penting untuk mengakomodir serta memberi peluang-peluang strategis untuk komunitas-komunitas anak muda. Karena Pasa Harau telah menjadi semacam simpul untuk menyimpan modal simbolis mereka, modal sosial, serta modal kultural anak muda.

Ditulis oleh: Roni Keron (Kurator Pasa Harau)

 

KULINER ENAK DI LEMBAH HARAU

Tahun 2017 lalu, tim infoSumbar berkesempatan hadir di event Pasa Harau, sebuah event pariwisata yang digagas oleh masyarakat di Lembah Harau, Kabupaten Limapuluh Kota. Di event ini kita bisa menikmati kuliner, keindahan alam dan pertunjukkan tradisi sekaligus.
Untuk urusan kuliner ada satu yang menarik dari Lembah Harau ini. Dan kuliner ini konon hanya ada di dua daerah di Kabupaten Limapuluh Kota, satu di Lembah Harau dan satu lagi di Limposi Tigo Nagari.
Kuliner minang yang satu ini adalah Goreng Pucuk Daun Kopi. Sesuai dengan namanya kuliner minang ini terbuat dari pucuk daun kopi. Pucuk Daun Kopi ini kemudian digoreng sampai krenyes bersama cabe halus dengan minyak yang tidak terlalu banyak. (more…)

MENYIBAK KEINDAHAN LEMBAH HARAU, THE YOSEMITE OF INDONESIA

Akhir pekan adalah waktu yang tepat untuk melepas lelah dan menghilangkan segala beban pikiran yang telah menumpuk selama beberapa hari. Salah satu aktivitas yang bisa dilakukan adalah dengan jalan-jalan, apalagi kalau ke Lembah Harau, yang karena keindahannya bahkan dijuluki sebagai The Yosemite of Indonesia. Bukan tanpa alasan julukan itu diberikan, karena memang keindahannya sebanding dengan Lembah Yosemite yang ada di Sierra Nevada, California, Amerika Serikat.

Lembah Harau sendiri berada dalam wilayah administratif Kabupaten Limapuluh Kota atau berada ± 138 km dari Padang ± dan 47 km dari Bukittinggi atau sekitar ± 18 km dari Kota Payakumbuh dan ±2 km dari Pusat Pemerintahan Kabupaten Lima Puluh Kota. (more…)

PANJAT TEBING DI LEMBAH HARAU, BERANI?

Lembah Harau terletak di dekat Kota Payakumbuh, Sumatera Barat. Walaupun namanya lembah, yang jadi atraksi utama di sini adalah tebing dengan tinggi mencapai 300 meter! Berani panjat tebing di sini?

Berbalut udara segar, Lembah Harau punya pemandangan yang ampuh untuk mengusir penat. Terletak di ketinggian lebih dari 500 mdpl, lembah ini dikelilingi beberapa bukit seperti Bukit Air Putih, Bukit Jambu, Bukit Singkarak, dan Bukit Tarantang.

Lanskap yang hijau akan langsung menyergap sudut mata Anda. Ssst, keindahan lembah ini tak jarang membuat banyak wisatawan enggan pulang. Untungnya ada beberapa homestay yang bisa dijadikan tempat menginap. (more…)

LEMBAH HARAU, TEMPAT BIDADARI TURUN KE BUMI

Tebing-tebing cadas setinggi 100 hingga 500 meter itu berdiri tegak laksana benteng pelindung bagi warga yang tinggal di sekitarnya. Warnanya coklat kemerahan dengan sejumlah tumbuhan menggantung di beberapa bagian tebing. Di antara tebing-tebing yang berdiri kokoh itu terdapat celah berupa daratan dengan hamparan sawah menghijau. Warna hijau padi ibarat permadani di tengah bentangan batu-batu cadas yang menjulang menantang langit. Inilah Lembah Harau, satu tempat eksotik untuk menikmati panorama alam di Kabupaten 50 Kota. Apalagi dasar lembah ini juga dihuni sejumlah jenis binatang dan burung liar yang menambah suasana alami. Saya tidak takjub begitu megah karunia Tuhan untuk daerah ini.  (more…)

LEMBAH HARAU, SALAH SATU LEMBAH TERINDAH DI INDONESIA

Perjalanan 1,5 jam dari Bukittinggi ke arah barat tidak akan sia-sia karena Anda akan disuguhkan suasana alam pegunungan dihiasi jejeran air terjun indah setinggi sekitar 100 meter. Belum lagi tempatnya dilalui empat buah sungai yang jernih siap memanjakan mata Anda.

Lembah Harau merupakan lembah yang subur terletak di Kecamatan Harau, Kabupaten Lima Puluh Kota, Provinsi Sumatera Barat. Berada sekitar 138 km dari Padang dan sekitar 47 km dari Bukittinggi atau sekitar 18 km dari Kota Payakumbuh dan 2 km dari pusat pemerintahan Kabupaten Lima Puluh Kota. Tempat ini dikelilingi batu granit terjal berwarna-warni dengan ketinggian 100 sampai 500 meter. (more…)

KENAPA HARUS KE PASA HARAU?

Pasa Harau mengambil ‘pasa’ yakni kata Minangkabau untuk ‘pasar’ yang juga dapat berarti keramaian. Harapannya, festival ini dapat menjadi pasar seni dan budaya, di mana berbagai potensi yang dimiliki oleh masyarakat Lembah Harau dan Limapuluh Kota dapat ditampilkan. Potensi dimaksud, tidak saja terdiri atas penampilan bentuk-bentuk pertunjukan seni, namun juga berbagai permainan rakyat, olahraga tradisional, jajanan dan makanan khas setempat, benda-benda kerajinan, serta pergelaran beberapa upacara tradisional. Nah, kenapa Anda harus datang ke festival ini?

1. SURGA TERSEMBUNYI
Di sana, di Kab. Limapuluh Kota, tersembunyi hamparan Lembah Granit berumur 30-40 juta tahun, seperti ratusan atap-atap rumah Minang di permadani alam. Keindahannya sudah dikenal sejak tahun 1926 (monumen bertandatangan Asisten Residen Belanda-F. Rinner, dan dua pejabat Indonesia-Tuanku Laras Datuk Kuning nan Hitam dan Datuk Kodoh nan Hitam). Tunggu, Anda juga masih mendapat bonus puluhan air terjun, cagar alam, dan suaka margasatwa seluas 270,5 Hektar.

Jika memilih melalui jalur Kota Padang, Anda akan ditemani jalur Kereta Api Kolonial yg mengular hingga pusat pendidikan Kayu Tanam dan Padang Panjang. Silahkan melempar ingatan pada para pendiri bangsa, sastra Minang, dan kebesaran arsitektural Kota Bukit Tinggi.

Jika memilih melalui jalur Kota Pekanbaru, siapkanlah mata (kamera) dan perut. Kelok Sembilan akan memanjakan mata, sekaligus menantang ketahanan perut. Sekarang atau menyesal seumur hidup!

2. MAKANAN DAN MINUMAN
Apa yang kau pikir dari campuran daging sapi terpilih, santan, bawang merah, bawang putih, daun kunyit, lengkuas, jahe, biji pala, daun sereh, daun jeruk, dan cita rasa Minang? Betul! Rendang! Ini bukan sembarang rendang, namun Rendang Hitam dari pusatnya di Desa Lubuak Batingkok!

Setiap Lebaran Haji, kemeriahan dan pesta kelezatan menjadi tradisi masyarakat Minang. Segala rempah dan kegembiraan bercampur dalam hidangan makanan. Rancak bana! Pasa Harau Art and Culture Festival sengaja dihelat di tengah kerihuan Lebaran haji, di tengah tradisi memanjakan lidah. Anda tidak hanya akan merasakan masakan yg tersaji di Rumah-rumah Makan Padang yang tersebar di Indonesia dan Dunia, namun juga kenikmatan yang selama ini hanya bisa dimiliki masyarakat asli.

Lagi-lagi, Pasa Harau Art and Culture Festiva memberi keistimewaan, menyajikan Kopi Kawa, kopi yang hanya dinikmati para buruh perkebunan kopi di masa lalu. Dengan daun kopi lokal pilihan yang disangrai selama 12 jam. Kemudian dicampur air dingin, lalu diseduh air mendidih, seperti menyeduh teh. Anda akan mengenang kembali sejarah bertahan hidup, cita-rasa sekitar, dan kepedulian.

3. MUSIK DAN PERTUNJUKAN
Pasa Harau Art and Culture memilih Talempong, Randai, Debus, dan Sijobang untuk tetamu yang hadir. Talempong merupakan ansambel musik tradisi yang terdiri dari talempong pacik, gendang, dan sikatuntuang. Sikatuntuang sebentuk kayu seperti lesung sang kemudian dihentak oleh dua kayu bulat (alu). Hentakan alu pada lesung tersebut kemudian menghasilkan bunyi-bunyi perkusif yang pada akhirnya diiringi oleh talempong dan gendang. Dahulu, Talempong dimainkan ketika panen padi di sawah.

Randai merupakan gabungan drama, tari, dan musik. Kesenian ini dimainkan secara berkelompok dengan membentuk legaran atau lingkaran, kemudian melangkahkan kaki secara pelahan sambil menyampaikan cerita (dialog) secara bergantian. Kesenian ini sangatlah populer di masyarakat Minangkabau, hampir setiap daerah di Minangkabau mempunyai kelompok Randai.

Sijobang merupakan kesenian musikal yang berkembang di Kabupaten 50 Koto dan Kota Payakumbuh. Sebuah kesenian yang mendendangkan cerita kaba Anggun Nan Tungga. Sijobang ini diiringi oleh instrumen musik Kecapi, orang menyebutnya dengan kecapi Pikumbuah. Selain itu, Basijobang juga dikenal dengan nama Sijontiak atau Basijontiak. Perbedaannya hanya pada instrumen yang digunakan, Basijontiak hanya menggunakan instrumen kotak korek api yang dijentik-jentikkan ke lantai.

Kesenian kekinian, yang lebih berkembang belakangan, juga kami hadirkan melalui mini konser dengan dukungan para seniman Minang, ISI Padang Panjang, dan inisiatif masyarakat sekitar.

4. PERMAINAN
Pernah menyaksikan Pacu Anjing? Sebuah perlombaan yang dilakukan untuk menguji seberapa kencangnya kekuatan anjing mengejar hewan buruan seperti babi hutan. Diujung garis finish diletakkan seekor babi di dalam kerangkeng sebagai pemancing untuk anjing-anjing peserta lomba untuk berpacu. Tentu suasana akan hingar bingar. Bagaimana anjing-anjing tersebut saling mendahului, saling menyalak satu sama lain, tentu saja anjing tercepatlah yang akan memenangkan pertandingan tersebut. Selain sebagai salah satu hiburan bagi masyarakat, pacu anjing juga sebagai ajang silaturahmi untuk masyarakat yang mempunyai hobi berburu babi. Pacu anjing tersebut tentu berbeda dengan pacu anjing yang dilaksanakan diberbagai negara seperti Australia misalnya, yaitu dengan menggunakan hewan hidup tanpa kerangkeng, sehingga dalam pacuan tersebut akan diperlihatkan bagaimana anjing-anjing buruan tersebut mencabik-cabik mangsa yang dijadikan umpan tersebut. Sedangkan di Sumatera Barat, umumnya hewan yang dijadikan pemancing dimasukkan kedalam kerangkeng dan berfungsi sebagai pemancing saja.

Anda juga berkesempatan menyaksikan lenggak-lenggok layang-layang beragam corak warna. Layangan ini seolah menjadi penanda bagi msayarakat lainnya tentang keadaan suatu daerah, semakin banyak layang-layang yang menghiasi langit pasca panen maka itu akan menandakan kemakmuran daerah tersebut. Menjelang musim panen tiba, membuat layang-layang menjadi kesibukan yang lain bagi kaum laki-laki.

Atau panjat kelapa dengan ketinggian pohon mencapai 30 Meter? Tentu sangat menarik menyaksikan orang memanjat pohon kelapa tersebut, dan kita ikut merasakan sensasi kengerian adrenalinnya. Tentunya bagi mereka yang sudah terlatih, memanjat tidak memerlukan waktu lama. Sedangkan bagi kita yang tidak biasa, sudah dapat dipastikan akan membuat keluar keringat di telapak kaki hanya dengan melihat orang memanjat saja.

Atau melihat keceriaan anak-anak Mancakau Baluik (menangkap belut) dan bermain Badia Batuang (bedil bambu)? Anda bisa menjadi bagiannya jika punya nyali!

5. BERSAMA MASYARAKAT MINANG
Anda bisa saja setiap hari mampir ke Rumah Makan Padang; Anda bisa saja setiap hari ke bertamasya ke ujung-ujung Sumatra Barat. Tapi Pasa Harau Art and Culture Festival memberi kesempatan kepada Anda menjadi bagain Masyarakat Lembah Harau. Anda akan menginap di rumah-rumah penduduk, mengenal keseharian, mendapatkan senyum ramah langsung dari empunya rumah.

Pasa Harau Art & Culture Festival adalah karya anak nagari Harau dan kami mengundang wisatawan dari manapun untuk datang tanpa dipungut biaya. Panitia menyediakan paket berbayar bagi pengunjung yang membutuhkan fasilitas transportasi, menginap dan makan. Satu lagi, bagi para jomblo, siapkan hati: Anda akan bertemu paras cantik dan ganteng Minang! Bawa jaket anti peluru, biar gak mati kalau ditembak hatinya! Eaaa… 😀

PASA HARAU: TENTANG KEINDAHAN ALAM DAN TRADISI MINANGKABAU

Sebelumnya, Harau adalah nama yang asing di telinga saya. Namun begitu menginjakkan kaki di sana, sesaat saya hanya bengong dan kagum akan keindahan alam yang super keren ini. Sawah yang menghijau sangat kontras dengan warna kuning kemerahan tebing granit setinggi 200an meter yang seakan menjadi benteng yang kokoh bagi kawasan tersebut. Belum lagi sejumlah air terjun menghiasi tebing tersebut. Tentu saja suatu yang mustahil bisa saya temui di Jogja 😀

Harau adalah nama kecamatan di kabupaten Limapuluh Kota, sekitar 18 km dari Payakumbuh, atau sekitar 138 km dari Padang, ibukota provinsi Sumatera Barat. Atau, bila ingin sport jantung – sebagaimana yang saya lakukan kemarin – kita bisa berangkat dari Pekanbaru menggunakan travel. Dengan rute ini kita akan melewati jembatan layang Kelok Sembilan yang sebelumnya hanya bisa saya nikmati di youtube. Namun, jalan yang menanjak dan turun serta berkelok-kelok, ditambah supir travel khas lintas Sumatera membuat penumpang – minimal saya – berasa kaki pengen banget nginjak rem! Tapi perjalanan semi horror tersebut terbayar lunas, bahkan lebih saat kita sudah sampai di kawasan lembah Harau.

Pasa Harau Art & Culture Festival adalah alasan saya bisa sampai di sini. Pasa yang berasal dari kata pasar atau keramaian, menjadi media untuk merepresentasikan budaya Minang. Nah, perpaduan alam yang indah dengan seni tradisi yang unik dan menarik adalah tujuan Pasa Harau menjadi satu event wisata eksotis. Oiya, belum lagi uni-uni yang cantik membuat jejaka manapun merasa betah tinggal di sana hhaaa….

Berdasar skala yang saya buat, Randai dan Silek Lacah berada di urutan atas dari sekian seni tradisi Minangkabau yang ditampilkan di Pasa Harau. Meski tidak berarti Tari Piriang, Pacu Anjing maupun seni dan permainan lainnya menjadi tidak menarik.

Randai dimainkan oleh sekelompok orang yang membentuk lingkaran, melakukan gerakan-gerakan yang dinamis dan rancak. Bahkan mereka memanfaatkan kain sarung yang mereka kenakan sebagai penambah bunyi-bunyian. Keren! Di sela-sela itu akan ada drama yang berwujud dialog atau pantun yang menceritakan sesuatu. Sayang, mereka menggunakan bahasa Minang sehingga saya 100% enggak paham mereka ngomong apa. Namun, gerakan-gerakan bergelombang yang rancak tersebut sangat menarik untuk ditonton.

Pada hari kedua Pasa Harau, dipertontonkan Silek Lacah atau Silek Lanyah atau silat yang dilakukan dalam kubangan lumpur. Di saat para tamu melakukan trekking, di suatu sawah mereka disuguhi pencak silat khas Minang yang konon berasal dari Padang Panjang ini. Para pemain saling beradu disertai tendangan, bantingan dan loncatan. Konon Silek Lanyah tidak hanya dimainkan dengan tangan kosong saja melainkan juga menggunakan senjata tajam seperti pisau atau senjata silek lainnya. Sayang pada penampilan kemarin mereka hanya beradu menggunakan tangan kosong. Cipratan lumpur dan air sawah menjadi efek yang menarik dan membuat penonton berdecak kagum.

Selain seni tradisi, yang menarik dari Pasa Harau adalah kulinernya! Makanan khas Minang yang kaya rempah dan bersantan membuat saya harus rela berat badan naik setelah hampir seminggu di sana. Rendang hitam dan ikan sambal tidak cukup disebut enak, namun enak banget! Selain itu masih ada teh Kawa Daun, yaitu seduhan daun kopi yang disajikan menggunakan tempurung kelapa. Rasanya unik dan eksotis.

Pasa Harau Art & Culture Festival menjadi kemasan yang menarik, membuat pengunjung mendapatkan semua yang ada di lembah Harau, baik kekayaan alam maupun seni budaya. Tapi kalau pengen uni Minang nan elok mestinya tetap harus berusaha sendiri.. 😀

 

sumber: aanprihandaya.net

SUGUHAN BUDAYA MINANG DI FESTIVAL PASA HARAU

Sejumlah penari menampilkan tari kolosal yang berjudul Rantrak Saragam Mayintak Bumi saat mengikuti Festival Pesona Budaya Minangkabau 2016 di Istano Basa Pagaruyung, Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat, Kamis (27/10).(Antara/Muhammad Arif Pribadi)

REPUBLIKA.CO.ID, LIMAPULUH KOTA — Untuk ke-2 kalinya, Pasa Harau Art & Culture Festival akan digelar pada tanggal 25-27 Agustus 2017 di Nagari Harau, Kabupaten Limapuluh Kota, Sumatera Barat. Direktur penyelenggara festival Dede Pramayoza mengungkapkan, festival yang digelar atas kerja sama Komunitas Harau ini akan menyuguhkan beragam atraksi kebudayaan yang menarik dan langka bagi para traveler dan pengunjung yang hadir dalam Pasa Harau Art & Culture Festival kali ini.

Menurut Dede, Festival ini terselenggara berkat dukungan masyarakat Lembah Harau dan pemerintah Nagari Harau. Masyarat Nagari Harau bergotong-royong menyiapkan pertunjukan, rumah untuk menginap, dan ragam seni instalasi. (more…)

MENYAKSIKAN KEAJAIBAN BUDAYA MINANGKABAU

Sumatera Barat sudah dikenal dengan masakan Rendang dan Padang yang terkenal, ajang olahraga mega tahunan Tour de Singkarak, dan Jam Gadang yang unik di kota kecil Bukittinggi yang menawan, provinsi Sumatera Barat diberkati dengan atraksi menarik dan pemandangan Arsitektur yang menakjubkan hingga budayanya yang menarik. Rumah kelompok etnis Minangkabau, inilah tanah dimana tradisi sosial dan budaya zaman dahulu terpelihara dengan baik dan sangat dihargai.

Pada tanggal 25 sampai 26 Agustus 2017, tradisi Minangkabau ini akan dipresentasikan di Festival Seni & Budaya Pasa Harau yang akan dipusatkan di Lembah Harau yang indah di Kabupaten Limapuluh Kota. (more…)